Sekitar tahun 1988 saya hijrah dari jakarta menuju desa di kabupaten Jepara Jawa Tengah. Sudah menjadi kebiasaan keluarga jika seorang anak mulai beranjak usia 6 tahun dan harus sekolah maka si anak harus dikampungkan. Hal ini orang tua lakukan karena mereka takut jika anak-anaknya sekolah di Jakarta menjadi anak nakal. Yah.. tentunya itu bukan jaminan, dimana pun tempatnya kalau sekarang sama saja.
Okey, usut punya usut di usia saya yang kenam mulai sekolah didesa. Yah ini adalah kali pertama saya berseragam merah putih. Karena masih baru tentunya memakai baju baru pula, tapi sayang saya harus memakai tas warisan dari kakak saya. Sedikit malu karena diejek teman-teman saat berangkat sekolah. Mereka bilang tas saya bobrok! Memang betul tas saya bobrok itu di karenakan tas saya reseletingnya sudah rusak jadi tidak bisa ditutup.
Tapi saya senang dengan suasana desa yang asri, masyaraktnya membumi ramah dan sangat kental dengan jawanya itu lho. Yang istimewa di desaku belum ada listrik, jadi kalo malem gelap banget. Tapi hikmah dari gelapnya malam memberi daya cahaya bintang untuk menyampaikan sinarnya kepada bumi. Sumpeh deh kalo malem langi begitu bertabur bintang, keren abis. Yang seru kalo bulan pernama, mungkis seperti kisah klise yang pernah didengar anak-anak bermain petak umpet. Ada satu hal yang sangat sulit ditemui saat ini, adalah kunang-kunang serangga terbang yang mengeluarkan cahaya kehijau-hijauan. Entah kemana mereka pergi.
Yups, sekarang kampungku ikut-ikutan isue global warming, itu lho yang panas-panas getoh. Terang ja sekarang panas n kepanasan, masalahnya banyak pohon-pohon besar yang di tebangin, jadi getoh. Btw gwe sekolah dari sd ampe smu di Jepara. Kalo dihitung-hitung sekitar 12 tahun ku da di kampung. Dan seperti biasa budaya orang kampung kalo dah lulus sekolah smu dan setingkat smu langsung pergi ke Jakarta buat ngaduin nasibnya. Entah dengan siapa mengadu, tapi hampir semua orang yg di Jakarta mungkin 80%nya adalah masyarakat yang datang dari luar daerah untuk mengadu nasibnya.
Tanpa terkecuali dengan saya, setelah lulus smu saya harus mengadu nasib alias berdagang buah binti bantuin emak!. Selama dua tahun saya bergulat dan malang melintang du dunia perpasaran binti dagang buah. dari tahun 2001 sampai pertengahan 2003 saya dagang buah, setelah merasa cukup modal akhirnya saya kuliah di salah satu universitas yang punya gensi dan reputasi. Desain Komunikasi Visual adalah jurusan yang saya ambil. Nah, disini aku mulai merasakan nuansa gaulnya Jakarta, dan sekaligus merasa diriku itu ndeso, he he he. Lha wes pi ye, muncul dari kampung terus dua tahun di pasar. Lengkap sudah karakter terbentuk dan tentunya karakter aku beda banget dengan mahasiswa pada umumnya yang asyik, suka musik, dan nongkrong di cafe-cafe.
Lah.. saya ini dari desa tahunya tembang waljinah campursari kalo nongkrong di sawah angon bebek or wedus. Kadang muncul tawa yang menggelikan dari teman tentang diri ini. Sadar ngga sadar aku pun ga ngerti kenapa mereka tertawa. Apa Karena gwe yang aneh, kaya nya sih iya. Sudah dari pada bicara tentang akeanehan yang ga jelas jelunturnganya, sebaiknya berbicara yang lain saja. Selain kuliah waktuku lumayan terkuras buat kerja paruh waktu, beruntung ada perusahaan yang mau menerimaku sebagai karyawan paruh waktu. Tapi disini karena sesuatu hal aku ngga bertahan lama dan memilih pindah ikut Event Orginizer, disini lumayan asyik tetapi ngga berapa lama perusahaan Event Orginizernya bangkrut.
Pokoknya gitu deh, saya kuliah selama tiga tahun di Universitas Trisakti, dan lulus pada tahun 2006. Akhamdulillah setelah lulus aku ngga lama-lama nganggur, aku di terima bekerja di Perusahaan Periklanan yang berlokasi di Jakarta Barat.
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/
yang pasti masih banyak orang dibawah kita yang lebih menderita, bersyukurlah bagi mereka yang diberikan jalan hidup penuh kebaikan, syukurilah hidup ini…
ya… saya mampir nih…
njeporone endi mas?
he…he…
Mas Sulhadi, dadi wong ndeso yo ra popo. Ra sah isin. Masalah rezeki tidak ditentukan oleh dari mana asal atau tumbuh masa remajanya. Sing penting golek rezeki sing halal. Kalo dah dapet rezeki, belanjakan ke jalan yg halal pula. Syukur bagi2 ke saya. he…he….
Ora kok mas, aku cuma guyonan. Yen teko tenan, yo tak trimo.
Ora kok mas, guyon maneh kok. Tapi yen ra dibagei, yo tak tunggu.
Ora kok mas, iki tenan aku cuma guyonan kok.
Tapi, guyonane mengharapkan.
Sorry mas, aku iki memang seneng guyonan, tapi dudu wong gendeng lho.
yo wis.
salam buat kunang-kunang
jangan smpe nggak ya,he3 semprul…….
jarang ada yag koment, komen sendiri aja
Halo mas sulhadi, saya mampir di blog sman1jepara dan dapet link ini dari sono, ceritanya bagus, dan dapat menimbulkan motivasi buat yang mbacanya termasuk saya
aku dulu juga sempet di jepara dari TK sampe SMA. sekarang dah pindah semua ke subang.
aku barusan liat2 portofolionya, keren2
btw salam kenal aja yak dari saya, sesama blogger
maaf nyasar
halo, lagi iseng-iseng browsing, nemu blog ini deh…sulhadi lulusan tahun berapa SMA 1 jeparanya?…ogut jg dariSMANSARA lulusan 1994, sama, di JAKBAR juga di UIEU…kita kontaks -kontaks lagi ya…erwan.baharudin@yahoo.com
June 17, 2008 at 3:03 am
Halo mas sulhadi, sebelumnya saya mohon maaf atas kekecewaanya, pesan 404 ini keluar karena ada perbaikan fungsi SEF di jktagus.web.id. Berikut ini adalah link yang berkaitan dengan link yang mas sulhadi buka: http://jktagus.web.id/internet/rss.html